KRITIK TERHADAP MODEL BERTEOLOGI EXKLUSUVISME, INKLUSIVISME & PLURALISME SEBAGAI PEMICU DAN POTENSI KONFLIK AGAMA DI INDONESIA

Dalam agama-agama terdapat berbagai model berteologi. Awalnya, model berteologi dipandang baik untuk menyebarkan ajaran agama kepada pemeluknya masing-masing. Namun pada akhirnya model berteologi agama-agama di Indonesia berujung pada pertanyaan  dogmatis, yang mempertanyakan : ‘ke-Tuhanan dari agama mana ?’ atau ‘ke-Tuhanan siapa ?’ yang dimaksud dalam sila pertama Pancasila dan UUD 1945. Kenyataan yang demikian ini telah membuktikan bahwa walaupun agama-agama di Indonesia memilik satu spirit yang sama dalam agama-agama, namun kehidupan beragama di Indonesia belum berlangsung secara ideal.

Pada dasarnya, model berteologi agama-agama yang digunakan mewujud pada simbol-simbol keagamaan dan kebenaran-keselamatan sepihak. Tentulah bahwa klaim-klaim teologis itu memiliki konsekuensi politik pula. Akibatnya, terciptalah kompetisi agama-agama yang berpangkal pada hakekat Allah dan berujung pada agamanya sendiri sebagai satu-satunya yang kudus, sambil memandang yang lain sebagai provan saja. Dengan model berteologi, masing-masing agama saling bergulat untuk menyatakan dirinya sebagai agama yang benar dan paling final. Dalam ‘God Has Many Names’ Hick menyatakan situasi berteologi keagamaan dimaksud, dengan kata-katanya sebagai berikut :

‘For if we are Christians, we have been singing for centuries that there is no other name given among men, whereby we may be saved, than the name of Jesus. And if we are Jews, we have been singing that we are God’s only chosen people, a light to lighten the world. And if we are muslims, we have been singing that Muhammad [peace be upon him] is the seal of the prophets, bringing God’s latest and final revelation. And if we are Buddhists or Hindus, we have been singing yet other songs which imply that we have the highest truth while others have only lesser and partial truths.    

Menurut Artur Adamo. maupun Hugh Goddard, seorang Kristiani ahli Teologi Islam dalam ‘Christians & Muslims: From Double Standards to Mutual Understanding’ fenomena keagamaan di atas sangat rentan dengan apa yang disebutnya sebagai ‘Standard Ganda’ [Double Standards].

Pada tataran teologis, kebobrokan model berteologi agama-agama yang bercorak telah memicu munculnya pertikaian tentang ‘doktrin keselamatan’. Sebagai implikasinya munculnya kerusuhan antar agama yang menodai hakekat dan fungsi agama. Karena gaya berteologi ini, Marx dapat menginterprestasikan agama sebagai ‘candu rakyat’ yang berbahaya atau sebagai produk alienasi [religion as Product of Alienation. Sementara Hegel menyebut agama sebagai sumber alienasi ‘religion as Source for Alienation’.

Di sisi lain, keterandalan model-model tertentu dalam berteologi agama-agama telah merobek dan mencabik-cabik bentuk tatanan sosial dan religiositas kemasyarakatan. Pasalnya, agama sebagai objek filsafat Hegel dalam abad XIX dan diterjemahkan oleh Durkheim sebagai sarana penguat kesadaran kolektif yang mewujud melalui upacara-upacara dan ritus-ritusnya telah mengabaikan dan sekaligus gagal mewujudkan serta melestarikan ‘pluralitas dimensi religiositas’.

  1. Model Exklusivisme

Exklusivisme adalah model bertoelogi yang memusatkan pandangan keselamatannya pada paham ‘Eccleosentris’ (Gereja adalah pusat keselamatan). Paham ini berasal dari gereja Roma Katolik pra Vatikan II. Dalam teologi ini, gereja Roma  Katolik  meyakini  dan   menyatakan   dirinya   sebagai pusat keselamatan. Di sini gereja mengidentikkan dirinya sebagai kerajaan Allah di bumi (sumber berlangsungnya karya Allah). Semboyan model ini adalah “Extra Ecclesiam Nulla Salus’ [di luar gereja tidak terdapat keselamatan]. Extra Ecclesiam Nullus Propetha’ [di luar gereja tidak ada nabi]. Sikap ini sebenarnya terjadi setelah agama Kristen yang umatnya minoritas dan sering dibunuh, tiba-tiba menjadi agama resmi Negara sesudah pemerintahan Kaisar Konstantin dan dalam pemerintahan Kaisar Theodosius. Melalui moment yang penting ketika Uskup Roma menjabat sebagai Pontifex Maximus, di saat itulah ia telah menyatukan kesejahteraan gereja ke dalam kesejahteraan negara.

Di sini jelaslah pengertiannya bahwa yang merupakan musuh negara adalah juga musuh gereja. Karena itu musuh gereja atau Negara yang dimaksudkan adalah mereka yang non Romawi dan non Kristiani di kemudian hari seperti umat Islam yang telah menduduki tanah suci dan telah mencapai Eropa. Terlepas dari doktrin gereja,  mereka  yang  dimaksudkan  sebagai  yang  kafir  itu merupakan musuh politik, musuh perang yang harus dihadapi pula dengan kekuatan perang dan  bukan dengan pendekatan yang lebih persuasif atau dialog.

Berdasarkan pada diktum gereja yang demikian, para teolog Luteran telah mengajarkan bahwa ‘di luar Kristus tidak ada keselataman’ atau lebih jelasnya ‘di luar Firman tentang Kristus tidak ada keselamatan’. Oleh sebab itu semua agama di luar Kristen berada di bawah kemurkaan dan penghakiman Allah, walaupun mereka telah menyampaikan kebaikan dan kebenaran dalam kehidupan sejarah manusia.

Keberatan saya terhadap model exklusivisme yaitu, ajaran ini buta akan hal-hal benar dan kudus yang ada dalam agama-agama lain (menurut Konsili Vatikan II) dan lupa bahwa semua yang baik dan benar itu dijadikan oleh sang Firman (Yoh.1:3 dan Kol 1:16).

2. Model Inklusifisme

Inklusivisme sebagai suatu model berteologi muncul disekitar abad 16-17. Model ini memiliki paham “Christosentris” (Kristus pusat keselamatan). Model ini berupaya  mengintegrasikan agama-agama non Kristen ke dalam refleksi teologis Kristiani. Dalam model ini, agama-agama lain disebut sebagai “Kristen Anonim”.

Model berteologi ini berada pada misi pemaduan dua pengakuan teologis, yakni ‘bekerjanya  anugerah Allah serta paham keselamatan agama-agama lain’ dan ‘keunikan anugerah Allah dalam Yesus Kristus’.

Dalam model ini, Yesus bersifat ‘konstitutif’dan ‘representative’. Pada sifat ‘konstitutif’, Yesus adalah pusat keselamatan. Karena itu apapun kebenaran dan kehadiran Roh dalam agama-agama lain, sifatnya memang ‘kristen anonim’, [Kristen tanpa nama] yang disebabkan oleh dan diarahkan kepada pemenuhan di dalam Yesus dan umat-Nya. Pada sifat ‘representative’ Yesus mewakili kasih Allah dan mewujudyatakan kasih Allah bagi manusia. Jadi Yesus tidak menyebabkan adanya kasih Allah, karena kasih adalah bagian dari struktur keberadaan Allah.

Berdasar pada paham model inklusifisme, maka di sisi tertentu terdapat pengakuan pada ‘partikularitas’ Yesus sebagai ‘pusat keselamatan’ Di sisi lain, Yesus sebagai ‘wakil’ Allah yang membawa ‘universalitas’ kasih Allah dalam diri-Nya, agar semua manusia beroleh selamat.

Keberatan saya terhadap model inklusifisme didasarkan pada 2 (dua) alasan mendasar, yakni : dasarkan pada alasan mendasar, yakni :

Pertama, model ini menempatkan Yesus bersifat konstituf, yakni Yesus pusat keselamatan. Karena itu di luar Yesus (di luar Kristen) tidak ada keselamatan).

Kedua, Bahwa meskipun agama-agama lain dipandang sebagai “Kristen anonim” (Kristen tanpa nama), karena keteladanan hidup mereka yang berpusat pada injil, namun belum tentu para penganut agama lain dapat menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat”.

3. Model Pluralisme

Pluralisme adalah suatu model berteologi yang memusatkan pandanganya pada pokok tentang ‘Teosentris’ (Allah pusat keselamatan). Model ini terbuka terhadap adanya kebenaran, bahkan menerima kebenaran yang ada dalam agama-agama lain. Itulah sebabnya model berteologi ini lebih menjunjung tinggi unsur-unsur kebenaran yang terdapat dalam semua agama, sebab kebenaran itu bersifat relatif.

Munculnya model berteologi ini pada dasarnya diakibatkan oleh kenyataan bahwa ada agama-agama condong untuk megafirmasikan dirinya sebagai unik dan istimewa, dan memandang dirinya sebagai agama primer terhadap agama lain sebagai agama sekunder. Situasi krisis keagamaan ini muncul dan diakibatkan oleh justifikasi keagamaan yang menempatkan dirinya secara partikular dan kolonis. Dalam situasi ini, agama-agama tidak mungkin berkembang sambil memurnikan diri dari embelan yang terlalu manusiawi, melainkan tetap berpihak pada unsur-unsur primordial yang mendasari terbentuknya agama itu.

Justifikasi diri keagamaan di tengah-tengah situasi plural yang dipicu oleh persoalan tentang hakekat ke-Allahan berlangsung secara terus-menerus dan mendasar. Hilangnya pengakuan, solidaritas dan kekerabatan keagamaan menjadi sangat berpotensi bagi munculnya suasana konflik umat beragama. Akibatnya agama dimaknai sebagai penindas kemerdekaan dan perusak kesadaran. Demikian juga seperti yang ditandaskan oleh Karl Marx bahwa agama adalah napas dari makhluk yang tertindas, hati dari dunia yang tak berhati, jiwa dari kebekuan yang tak bernyawa, candu masyarakat.

Munculnya Teologi Pluralis dalam konteks kehidupan masyarakat  dunia tidak dapat dilepaskan dari beberapa faktor penting, yang antara lain : Fakta Kemajemukan Agama dan Tuntutannya ;   Relativisme ; Teologi Sekularisasi Barat ; Globalisasi ; Sekolah Tinggi Teologi dan Literatur Kaum Pluralis ; Konsili Vatikan II [1961-1965] & Sidang Raya DGD di Uppasala [1968]. Keberatan penulis terhadap model pluralisme ini disebabkan karena 2 (dua) hal mendasar, yaitu :

Pertama. model ini mengandung bahaya relativisme, yakni sikap yang menganggap bahwa semua agama memiliki kebenaran yang sama dan memahami bahwa berbagai-bagai tradisi religius pada dasarnya hanya merupakan penampakkan (fenomena) dari hal yang satu dan sama. Dalam arti bahwa walaupun penafsiran dari masing-masing agama memang berbeda, namun apa yang ditafsirkan oleh semua agama itu dimiliki bersama sebagai suatu dasar bersama untuk semua agama. Itulah sebabnya model pluralisme ini mengandaikan bahwa ada bermacam-macam manifestasi yang menyatakan esensi yang bersifat generik atau dapat dialami secara universal.  ;

Kedua, model ini telah mengakibatkan dikosongkannya bahkan dijualnya partikularitas agama-agama. Karena itu model ini telah menganut sebuah teori “ekspresivisme pengalaman”. Artinya, agama-agama yang beragam ini memliki objektifasi yang berbeda-beda mengenai sebuah pengalaman inti yang dimiliki bersama oleh semua agama dan  merupakan norma untuk menentukan apakah sebuah objetifasi itu cocok atau tidak. Ekspresivisme pengalaman lebih dahulu ialah “batin” sedangkan “lahir” menyusul kemudian. Dengan kata lain, lebih dahulu pengalaman baru kemudian suatu ungkapan secara bahasa dan budaya. ===============================================

Penulis: Kresbinol Labobar (Dosen STAKPN Sentani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *