SPIRITUALITAS PELAYAN DALAM PELIPAT GANDAAN JEMAAT (MULTIPLIKASI)

Kerja buat Tuhan, terlalu manise…

Demikian petikan syair lagu yang sering dikumandangkan sebagai pernyataan atas komitmen para pelayan Tuhan dalam pelayanan di jemaat. Namun apakah dengan menjadi pelayan Tuhan hal itu sudah cukup ?

Ternyata dari hasil observasi di lapangan, hari sebagai para pelayan Tuhan, kita tidak hanya sebatas memberi diri untuk melayani Tuhan, tetapi bahwa sebagai seorang pelayan Tuhan, kita dituntut untuk memiliki spiritualitas diri dalam melayani.

Urgensitas pelayan yang berspiritualitas sangat menentukan bagi pelipat gandaan jemaat dan lebih dari itu terjadi peningkatan secara kualitas bagi kehidupan jemaat. Hal ini perlu diseriusi karena dewasa ini komunitas gereja telah banyak meninggalkan gereja Tuhan. Dari keterangan terdapat 50% anak muda milenial meninggalkan gereja Tuhan. 

Wujud dari spiritualitas diri yang wajib dimiliki oleh setiap pelayan Tuhan dapat di contoh dari kepribadian Tuhan Yesus. Dalam dunia pelayanan, Tuhan Yesus memiliki kualitas hidup dalam kata dan perbuatan. Hal lain pula dapat di lihat dari perilaku orang Samaria yang murah hati.

Expresi dari pelayan yang memiliki spiritualitas harus terlihat dalam perilaku hidup, keteladanan hidup yang positif dan memberi pengaruh bagi lingkungan pelayanan di mana pun. Pelayanan yang kreatif, inovatif, konstruktif juga merupakan buah dari spiritualitas itu. Itulah sebabnya, seorang pelayan harus melandasi segala bentuk pelayanannya dalam kasih agape dan dalam keteladanan Kristus. Pelayan yang memiliki spiritualitas nampak pula dalam relasi yang baik secara vertikal maupun horisontal. Secara vertikal, maksudnya adalah pelayan harus menciptakan relasi yang baik dengan Tuhan, Sang Gembala yang mempercayakan kepadanya tugas pelayanan itu. Secara horisontal maksudnya adalah pelayan harus merajut relasi sosial yang baik dengan sesama yang dilayani.  

Di sisi lain tidak dapat dipungkiri bahwa dalam menjalankan tugas pelayanan sering dijumpai berbagai tantangan. Tantangan terkuat dapat disebabkan dari lingkungan keluarga, lingkungan jemaat, lingkungan masyarakat, lingkungan politik dan juga lingkungan budaya, masalah profesi/pekerjaan, model liturgi, dsb.

Kuatnya tantangan pelayanan yang disebabkan oleh lingkungan keluarga nyata dari tidak adanya dukungan anggota keluarga. Di lingkungan jemaat, sering terjadi bahwa ruang pelayanan menjadi ajang mencari popularitas diri. Di lingkungan masyarakat pelayanan seringkali berhadapan dengan persoalan status sosial. Pada lingkungan politik, pelayanan harus berhadapan dengan berbagai kepentingan  dan kehendak golongan. Di lingkungan budaya, pelayanan harus berhadapan dengan masalah budaya/tradisi/adat-istiadat. Pada bidang profesi, terkadang dijumpai karena pekerjaan profesi, pelayan sering mengabaikan tugas pelayanan. Demikian halnya dengan kebosanan jemaat karena model liturgi yang membosankan.

Hal lain pula yang perlu disadari bahwa dalam melakukan tugas pelayanan seorang pelayan sering berhadapan dengan konteks dan lingkungan jemaat yang berbeda-beda. Sebut saja jemaat pedesaan dan jemaat perkotaan tidak dapat disamakan dalam model atau metode pelayanan. Karenanya sangat dibutuhkan penanganan pelayanan yang bervariatif tetapi tetap berdasar pada model pelayanan Kristus.

Akhirnya, dalam mewujudkan spiritualitas pelayanan perlu kiranya setiap pelayan memiliki kehidupan yang selalu dibaharui, (menjadi seperti garam dan terang dunia); setiap pelayan harus selalu mengevaluasi komitmennya untuk melayani Tuhan; setiap pelayan harus menjadi teladan, loyal dan berdedikasi, berintergritas dan tetap beriman kepada Tuhan Yesus, Gembala Agung dan Kepala Gereja.

Selamat melayani. Tuhan Yesus Memberkati !!

Lokasi : Jemaat GKI Solagratia Buper Waena

Hari : Sabtu, 13 Juli 2019

Waktu : Pukul 09.00 – 16.00 WIT

================================

Penulis : Pdt. Dr. Kresbinol Labobar, M.Si

Foto : Pdt. Dr. Kresbinol Labobar, M.Si

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *