Toraja dikenal sebagai daerah yang “kuat” dengan budaya yang diwarisi dari para leluhurnya. Keasliannya pun masih terjaga dengan baik. Keunikan dari peninggalan leluhur tersebut membuat suku Toraja menjadi daerah wisata budaya yang dikunjungi oleh turis lokal maupun mancanegara.

Berbagai tradisi Toraja yang sangat terkenal, yaitu rambu solo dan rambu tuka, namun tradisi yang menarik wisatawan adalah rambu solo. Tradisi ini disebut-sebut sebagai pemakaman termahal di dunia karena harganya yang mahal. Selain tradisi, rambu solo, ada tradisi lain yang lebih unik dan menarik yaitu tradisi ma’nene.

Ma’nene adalah tradisi memandikan dan mengganti pakaian leluhur atau kerabat yang telah meninggal. Tradisi ini telah menyatu dengan masyarakat dan masih dilestarikan hingga saat ini, khususnya di Desa Baruppu. Masyarakat Desa Baruppu menganggap tradisi ini sebagai kewajiban untuk menghormati leluhurnya.

Tradisi ini digelar setiap tiga tahun sekali pada bulan Juli dan acara puncaknya bulan Agustus. Dengan cara ini, kerabat yang jauh di ranatu dapat mengatur jadwal untuk ikut terlibat dalam tradisi ini sekaligus mengunjungi keluarga mereka.

Bagi masyarakat Desa Baruppu, hubungan keluarga tidak hanya akan berakhir setelah kematian. Karena itu, pada saat tradisi ma’nene berlansung, jasad dari keluarga atau kerabat akan dikeluarkan dari tempat penyimpanan “patene”, kemudian dimandikan dan dikenakan pakaian baru yang mewah. Uniknya, pawai itu harus penuh kegembiraan, tanpa ada rasa duka, apalagi menangisi  jasad.

Sebelum dimasukkan kembali ke dalam peti mati,  jasad dijemur di bawah terik matahari. Tujuannya agar tubuh tetap awet. Selain mengganti baju  jasad, dalam upacara tersebut juga termasuk penyembelihan kerbau dan babi sebagai bentuk persembahan.

Bagi masyarakat Desa Baruppu, tradisi unik ini perlu dilestarikan karena tidak lebih dari bentuk penghormatan terhadap leluhur dan sanak saudara yang telah meninggal dunia. Tradisi ini juga memiliki makna yang lebih, mencerminkan betapa pentingnya hubungan antara anggota keluarga, terutama kerabat yang meninggal lebih dulu.


Penulis: Lisa Pasorong (Mahasiswa Semester IV, Program Studi S1-Pendidikan Agama Kristen, STAKPN Sentani)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here