TAROMBO ORANG BATAK

0
234
Sumber Gambar: https://www.kompasiana.com/tulus182/55889f9dc523bdc00a93bad0/orang-batak-antara-cinta-dan-budaya-part-1

Suatu kebiasaan yang lazim bagi setiap orang Batak adalah melestarikan tarombo atau silsilah. Tarombo bukan menjadi kebutuhan bagi orang Batak, tetapi sebuah identitas. Meskipun Tarombo yang terpelihara kelihatan biasa saja, namun ternyata memiliki makna yang dalam. Selain untuk mengenal siapa kakek moyang orang Batak, kita juga dapat mengetahui siapa yang menjadi bagian dari keluarga baik yang dekat maupun yang jauh.

Umumnya, keluarga yang kita kenal hanya sebatas pada Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, Paman, dan Tante. Setelah mencermati tarombo, ternyata keluarga kita tidak hanya terbatas itu saja. Dengan memahami tarombo, maka kita bahkan dapat mengenal banyak saudara. Di setiap tempat perantauan, ketika ada orang Batak yang bertemu, pastinya mereka akan “martutur” atau berkerabat, biasanya dilakukan dengan cara saling bertanya marga. Tujuan agar perbincangan mereka tidak canggung dan menjadi lebih akrab. Apalagi ternyata mereka “mar appara” atau saudara semarga.

Dalam hal ini, Tarombo memiliki fungsi lain sebagai alat untuk memperakrab. Itu untuk pria sesama Batak.  Namun, saat yang bertemu pria Batak dengan Boru Batak, hal yang sama juga akan dilakukan yaitu martutur. Di sini lumayan menarik, karena di setiap pertemuan ada peluang untuk bertemu dengan pariban. Pariban merupakan anak perempuan dari Tulang atau paman kita. Dan pariban inilah  sepupu yang bisa dinikahi. Sementara untuk saudaranya pariban, kita panggilnya lae.

Umumnya, orang Batak memulai Tarombo dari kelompok ataupun induk marga mereka. Tetapi ada juga yang membuat lebih lengkap, yang dimulai dari Si Raja Batak. Ini juga tergantung dari seberapa ingat dia akan pendahulunya. Misalnya, Nai Rasaon ini memiliki 4 orang keturunan yaitu Manurung, Sitorus, Sirat dan Butarbutar. Nai Rasaon di sini merupakan induk untuk marga-marga tersebut. Dan mereka berempat inilah yang disebut “marhaha maranggi” atau yang bersaudara. Mereka inilah yang disebut sebagai Toga atau pokok atau nenek moyang dari marga-marga yang sudah disebutkan.

Semisal marga Butarbutar,

Gambaran di atas dapat dijelaskan bahwa, Toga Butarbutar menikah dengan Boru Ragi Sinaga yang kemudian memperanakkan 3 orang anak, yaitu Mananduk, Hutagorat dan Mananti. Dalam hal ini, mereka adalah keluarga, dari mereka sampai ke keturunannya yang akan terus bertambah. Namun, sampai saat ini belum ada keturunan dari Hutagorat yang terkonfirmasi. Informasi terakhir yang didapat bahwa Hutagorat pergi merantau ke Aceh, namun hingga kini tidak ada informasi yang diketahui tentang keberadaannya sehingga dianggap punu (meninggal). Dalam penentuan ini, tidak dilakukan oleh sepihak dan tidak dilakukan dengan waktu singkat. Tetapi melalui proses dan kesepakatan adat yang disaksikan oleh masyarakat dan disetujui.

Zaman sekarang, umumnya di daerah perantauan, banyak organisasi yang dibentuk oleh orang-orang Batak yang terdiri atas beberapa marga tertentu yang tujuannya mempererat persaudaraan mereka. Semisal, punguan Sonak Malela se Jayapura. Organisasi ini terdiri atas marga-marga yang merupakan keturunan dari Sonak Malela, yaitu marga Simangunsong, Marpaung, Napitupulu dan Pardede. Harapannya, sebagai generasi penerus dapat menghargai peninggalan leluhur dengan memelihara Tarombo. Dengan demikian, persaudaraan kita sebagai orang Batak akan terpelihara dengan baik. Pelihara Tarombo, lestarikan budaya. Horas!


Penulis: Patar Butarbutar (Mahasiswa Prodi S1-Pendidikan Agama Kristen Semester IV, STAKPN Sentani)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here