Dalam gereja kita kenal program pembinaan warga gereja. Dalam pandangan Marlin (2016: 22), bahwa pembinaan warga jemaat usia dewasa dalam gereja berdasarkan kajiannya menurut Surat Efesus 4: 11-16; juga diperjelas oleh Sidjabat (2002: 16), tentang tugas panggilan gereja yang tidak pernah berubah. Namun, bentuk-bentuk penerapannya tidak selalu sama di berbagai tempat dan setiap zaman. Strategi pelayanan bagi orang dewasa disesuaikan dengan fungsi perkembangan, serta dengan isu penting di sekitar usia tersebut. Rancangan program pembinaan di jemaat harus disesuaikan dengan pergumulan individu maupun kelompok.

Hasil riset McKenzie tentang “Gejala Nonpartisipasi Orang Dewasa Dalam PAK Dewasa”, mengungkapkan beberapa faktor penyebab, seperti kecenderungan menolak perubahan, keterasingan, marginality, sosial nonaffiliation, dan program nonrelevane. McKenzie melihat akar persoalan dapat digolongkan menurut lima wilayah. Kebanyakan program PAK Dewasa dalam gereja antara lain. Kesatu, didominasi oleh golongan teolog dan majelis jemaat (pejabat gereja). Kedua, lebih menekankan pendidikan dengan tujuan formatif ketimbang pendidikan yang kritis. Ketiga, terlalu berpusat pada tema teologis dan kurang memperhatikan hal-hal lain juga yang dibutuhkan oleh orang dewasa. Keempat, dilaksanakan oleh teolog-teolog yang dipersiapkan secara minim sekali dalam bidang pendidikan sebagai suatu praktek sosial. Kelima, dibangun tanpa dasar penelitian akan kebutuhan (Tamsyur, 2016).

Kajian Johnson (2020: 12), tentang “PAK Dewasa bagi Usia Dewasa Akhir” yang dalam istilahnya disebut pelayanan bagi orang dewasa yang lebih tua menyimpulkan dan merekomendasikan bahwa para pendidik Kristen dan pemimpin pelayanan mempertimbangkan persepsi dari sekelompok pelayan terpilih mengenai pelayanan orang dewasa yang lebih tua. Dalam Dunia Pendidikan Kristen, secara umum kita ketahui bahwa landasan teologi PAK meliputi tugas, proses, dan tujuan. Tugas PAK adalah mengajar (Mat. 28: 19-20); Proses dari PAK adalah memuridkan; dan Tujuan dari PAK adalah untuk mengupayakan perubahan, pembaharuan, reformasi pribadi-pribadi, kelompok bahkan struktur, oleh kuasa Roh Kudus, sehingga peserta didik hidup sesuai dengan kehendak Allah sebagaimana dinyatakan oleh Alkitab, terutama dalam Yesus Kristus (Kristanto, 2008: 5-6).

Kesimpulannya adalah pendidikan agama Kristen harus dilaksanakan dengan mengindoktrinasi murid dalam iman Kristen sehingga ajaran Allah (Alkitab) ini membentuk hidup dan menjadi gaya hidup orang Kristen. Pengalaman Kristen adalah pengalaman menerapkan Alkitab. Pengalaman mengizinkan Alkitab membentuk imajinasi, perasaan, persepsi, interpretasi dan tindakan seseorang sebagai pengikut Kristus.

Sementara itu, PAK dewasa merupakan istilah yang berkembang di Amerika Serikat. Istilah ini pertama kalinya dikenal dengan “Adult Religious Education.” Menunjuk pada usaha gereja dalam mendidik warganya, untuk kategori usia dewasa dan dalam berbagai setting dan bentuk. Jika hal tersebut ditujukan kepada orang dewasa, maka istilah yang dipakai adalah Adult Christian (Religious) Education (PAK Dewasa) atau Adult Religious Education. Pendidikan orang dewasa (POD) merupakan bidang pelayanan yang sangat strategis. Karena itu, orang dewasa semestinya menjadi orang Kristen garis depan yang menghadapi dunia ini dengan segala tantangannya, terutama dalam pekerjaan masing-masing. Orang dewasa masih membutuhkan pendidikan dan pembinaan dalam gereja agar mereka dapat hidup sebagai orang Kristen yang bertanggung jawab dalam dunia kerjanya dalam profesi apapun (Nuhamara, 2008: 9). Sidjabat (2014: 9-11), menyatakan beberapa alasan mengapa orang dewasa perlu mendapatkan pembinaan, yakni untuk perubahan diri mereka, untuk pengembangan diri mereka, untuk tugas dan tanggung jawab, dan untuk menjawab kebutuhan Gereja.

Dengan demikian, dapat dipahami PAK Dewasa merupakan keseluruhan proses pendidikan yang dilakukan secara sengaja, sistematis, dan berkelanjutan. Proses pendidikan ini diterapkan kepada warga gereja yang secara usia telah dewasa dan telah mempunyai peranan sosial, agar dapat menjalani kehidupan spiritual dengan baik dan benar, sehingga berdampak positif bagi orang lain, baik dalam gereja, masyarakat dan dimanapun berada.

Perkembangan Usia Dewasa Akhir

Menurut Santrock, definisinya dalam pandangan orang Barat (POB) dan Indonesia. POB yang tergolong dewasa akhir atau lanjut usia adalah orang yang sudah berumur 65 tahun keatas, dimana usia ini akan membedakan seseorg masih dewasa atau sudah lanjut usia. Sedangkan POI, orang yang berumur lebih dari 60 tahun, karena umumnya di Indonesia dipakai usia maksimal kerja dan mulai tampaknya ciri-ciri ketuaan.

Perkembangan Usia dewasa akhir (let Adulthood) menurut Santrock (2011: 528-643), dilihat dari perkembangan fisik, kognitif dan sosio-emosional. Perkembangan fisik dewasa akhir dapat diketahui melalui beberapa indikator. Kesatu, berkurangnya tingkat metabolisme dan menurunnya kekuatan otot-otot juga mengakibatkan pengaturan suhu badan menjadi sulit. Kedua, pada usia lanjut terjadi penurunan dalam jumlah waktu tidur yang diperlukan dan kenyenyakan tidurnya. Orang usia lanjut pada umumnya menderita gangguan susah tidur (insomnia). Ketiga, perubahan dalam pencernaan mungkin merupakan perubahan yang paling kelihatan dalam fungsi pengaturan pencernaan. Keempat, kesulitan dalam makan sebagian diakibatkan pada gigi yang tanggal yang merupakan gejala umum bagi orang usia lanjut dan juga karena daya penciuman dan perasa yang menjadi kurang tajam.

Kelima, semakin menuanya sel-sel, semakin sulit juga untuk membuang sisa-sisa. Akhirnya “sampah” ini menempati lebih dari 20% bagian sel. Keenam, menuanya sel, molekul-molekulnya dapat saling terhubung dan melekat sedemikian rupa sehingga dapat menghentikan siklus vital biokimia dan menciptakan bentuk-bentuk kerusakan lain pada saat mereka mengganggu fungsi sel. Perkembangan kognitif usia dewasa akhir mengalami penurunan intelektual. bahwa masa dewasa dicirikan dengan penurunan intelektual, karena adanya proses penuaan yang dialami setiap orang. Perkembangan sosio-emosional pada usia dewasa akhir dapat diketahui melalui lingkungan sosial, etnisitas, keluarga dan kepuasan hidup.

Rekonstruksi Implementasi PAK Dewasa Terhadap Usia Dewasa Akhir

Berjalannya waktu jumlah warga jemaat yang usia dewasa akhir juga terus bertambah. Hal itu berdampak bagi gereja. Gereja pun tidak bisa menghindar atau menolak atau mengabaikan pelayanan dan PAK bagi warga jemaat yang sudah lanjut usia. Jemaat dalam kategori usia dewasa akhir ini harus mendapatkan perhatian gereja secara khusus. Untuk itu, Pemimpin gereja harus memahami benar PAK Dewasa bagi usia dewasa akhir. Karena itu, gereja perlu memikirkan dan menyiapkan orang-orang khusus untuk melayani para lanjut usia ini. Sebab pelayanan kepada usia dewasa akhir ini bukanlah pelayanan yang mudah.

Hasil kajian Johnson (1995: 41), menjelaskan demografi dari fenomena “gelombang usia” serta gereja-gereja yang tampak lamban untuk merespon. Perubahan yang diperkirakan dalam pelayanan orang dewasa yang lebih tua dan menyarankan bahwa pendidikan agama harus terus mengikuti tren yang mempengaruhi pelayanan orang dewasa senior. Persiapan untuk pelayanan harus didasarkan pada studi yang cermat tentang tren saat ini dan kebutuhan yang diproyeksikan dari orang dewasa senior. Ia merekomendasikan tentang pelayanan orang dewasa yang lebih tua dilakukan di denominasi lain, dan asosiasi gereja serta di gereja individu.

Pembinaan bagi warga gereja usia Dewasa akhir dapat dilakukan melalui tiga cara. Kesatu, Gereja dapat mengisi keputusasaan pada usia ini dengan melibatkan para lansia dalam kegiatan gereja seperti pendoa syafaat, penasihat, perencana program dan keteladanan bagi generasi penerus (Titus 2:1-5). Keterlibatan melayani merupakan bentuk pemanfaatan positif dari waktu yang tersisa (Maz. 90:1-12; Ef. 5:16-17; Kol. 4:6). Kedua, Gereja perlu membina usia dewasa akhir untuk bisa memahami keadaan mereka serta memberikan dukungan yang berarti. Ketiga, memotivasi para lansia dalam pembaharuan relasinya yang lebih bersifat pribadi kepada Tuhan (Maz. 71:1-24) serta menyiapkan mereka menghadapi kematian dengan meyakinkan adanya jaminan keselamatan di dalam Kristus (II Kor. 4:16- 10; I Tes. 4:13-18).

Sebuah studi yang dilakukan oleh Pande (2019: 104), menggambarkan pelayanan-pelayanan yang dapat dilakukan oleh gereja terhadap usia dewasa akhir, sebagai berikut. Kesatu, pembinaan Rohani antara perkunjungan, konseling, ibadah atau persekutuan lanjut usia, katekisasi persiapan kematian, melibatkan lanjut usia dalam pelayanan, ibadah perayaan hari lanjut usia. Kedua, pembinaan fisik semisal membuat hasta karya, rekreasi, pelayanan kesehatan, pelayanan dan diakonia.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan sebelumnya, nampaknya ada bagian-bagian PAK dewasa yang perlu direkonstrusi implementasinya. Rekonstruksi merupakan penyusunan kembali guna untuk memperbaiki hal yang salah akan sesuatu yang telah ada dengan tujuan untuk penyempurnaan. Rekonstruksi yang berarti membangun atau pengembalian kembali sesuatu berdasarkan kejadian semula, dimana dalam rekonstruksi tersebut terkandung nilai–nilai primer yang harus tetap ada dalam aktifitas membangun kembali sesuatu sesuai dengan kondisi semula.

Untuk kepentingan pembangunan kembali sesuatu, apakah itu peristiwa, fenomena-fenomena sejarah masa lalu, hingga pada konsepsi pemikiran yang telah dikeluarkan oleh pemikir-pemikir terdahulu, kewajiban para rekonstruktor seperti Pemimpin Gereja dan Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen harus melihat pada segala sisi, agar kemudian sesuatu yang coba dibangun kembali sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dan terhindar pada subjektifitas yang berlebihan, dimana nantinya dapat mengaburkan susbstansi dari sesuatu yang ingin kita bangun tersebut. Secara umum kepada PAK Dewasa dan secara khusus PAK Dewasa pada Usia Dewasa Akhir.

Implementasi PAK Dewasa kepada usia dewasa akhir sangat penting dan harus ada. Gereja harus segera memiliki pelayan khusus yang berkompetensi untuk mendidik, membina dan melayani warga geraja usia dewasa akhir.  Tidak ada metode, pelayanan dan persekutuan khusus yang diberikan dalam bagian PAK Dewasa untuk usia dewasa akhir. Oleh karena itu, para pemimpin gereja perlu melakukan rekonstruksi implementasi PAK Dewasa bagi usia dewasa akhir.


Penulis:

Pilipus M. Kopeuw, S.Th, M.Pd (Dosen Jurusan PAK, STAKPN Sentani)

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here