
Seleksi Nasional PMB PTTKN Tahun 2026
09/02/2026
Penyesuaian Jam Kerja Pegawai Kementerian Agama Pada Bulan Ramadan 1447 Hijriah
18/02/2026SENTANI – Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Sentani secara resmi membuka perkuliahan Pascasarjana Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 pada Selasa, 10 Februari 2025. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Ketua STAKPN Sentani, Dr. Fredrik Warwer, M.Th, yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya Pascasarjana sebagai ruang pengembangan keilmuan teologi yang kontekstual, kritis, dan berorientasi pada perdamaian di tengah realitas keberagaman Indonesia, khususnya di Tanah Papua.
Dalam arahannya, Ketua STAKPN Sentani menekankan bahwa pendidikan pada jenjang Pascasarjana tidak hanya berfokus pada penguatan kapasitas akademik, tetapi juga pada pembentukan integritas iman dan tanggung jawab sosial. Pascasarjana diharapkan menjadi pusat refleksi teologis yang mampu menjawab persoalan-persoalan aktual masyarakat secara ilmiah dan transformatif.
Pembukaan perkuliahan semakin semarak melalui kegiatan Dialog Akademik yang menghadirkan Prof. Izak Latu, MA., Ph.D, Guru Besar Bidang Agama-Agama dan Sosiologi Agama dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Dalam pemaparannya bertajuk “Perdamaian dan Pendidikan Agama Kristen di Indonesia: Refleksi A Good Samaritan dari Lensa Sosiologi Agama,” Prof. Latu menegaskan peran strategis Pendidikan Agama Kristen dalam membangun etos kepedulian, solidaritas lintas batas, serta praksis iman yang membumi di tengah masyarakat plural. Ia menyoroti pentingnya refleksi teologis yang dialogis dan kontekstual dalam merawat harmoni sosial.
Diskursus akademik turut diperkaya oleh para narasumber internal STAKPN Sentani. Dr. Fredrik Warwer, M.Th membawakan tema “Land as God’s Possession in Papua Local Wisdom: An Ecotheological Study of Leviticus 25:23,” yang menyoroti relasi teologis antara tanah, manusia, dan Allah dalam perspektif kearifan lokal Papua. Kajian ini menegaskan pentingnya kesadaran ekologis sebagai bagian integral dari iman Kristen.
Selanjutnya, Dr. Maryam B. Gainau, M.Pd mengusung topik “Moderasi Beragama sebagai Pendekatan Psikologis Remaja di Era Modern,” dengan penekanan pada pembentukan karakter dan kesehatan mental generasi muda di tengah tantangan zaman.
Dr. Kresbinol Labobar, M.Si membahas tema “Agama: Sumber Perdamaian dan Produk Perdamaian (Sebuah Kekuatan Transformasi),” yang menegaskan bahwa agama tidak hanya dipahami sebagai doktrin normatif, tetapi sebagai energi transformatif bagi rekonsiliasi sosial dan keadilan.
Dr. Evelien Ugadje, M.Pd.K memaparkan “Moderasi Beragama dalam Budaya Sentani,” yang menekankan dialog antara iman Kristen dan nilai-nilai budaya lokal sebagai fondasi hidup bersama.
Dr. Hendrika Karubaba, M.Si mengangkat tema “Moderasi Beragama dalam Perspektif Teologi Gender (Membangun Iman yang Adil, Inklusif, dan Membebaskan),” yang menyoroti urgensi kesetaraan dan keadilan gender dalam praksis teologi.
Dr. Sherli Patasik, M.Th membahas “Teologi Kristen di Era Disrupsi (Menjawab Tantangan Iman di Tengah Perubahan Global),” yang mengajak civitas akademika bersikap adaptif dan reflektif terhadap dinamika perubahan global.
Sebagai penutup, Dr. Pilipus Kopeuw, M.Pd mengangkat topik “Moderasi Beragama di Papua (Dari Konflik Identitas Menuju Etika Hidup Bersama),” dengan penekanan pada rekonstruksi relasi sosial yang damai dan bermartabat di tengah kompleksitas identitas.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Pascasarjana STAKPN Sentani diharapkan terus menjadi pusat transformasi pendidikan Kristen yang unggul dan kontekstual. Komitmen tersebut diwujudkan dalam upaya membentuk lulusan yang berkualitas secara kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta melahirkan duta-duta perdamaian yang memberi dampak nyata bagi gereja, masyarakat, bangsa, dan negara.
#Penulis: Robyn.B.P, #Design: Robyn.B.P, #Dokumentasi: Erpina, D.C.S, #Editorial: Gusti. N.P.










