BERTUMBUH UNTUK MENUMBUHKAN

Tahun 2021 menjadi  ramai dengan  adanya pesta  pemilihan kepala kampung di Kabupaten Jayapura. Tidak lepas dari itu, sosok  para calon kepala kampung yang akan dipilih pun meramaikan jalanan  dengan  spanduk mereka, memaparkan visi dan tidak lupa senyum ramah  penuh arti. Semua  karakteristik,  watak, kebiasaan, tingkah laku, latar belakang  pendidikan, jabatan dan semua hal baik disuarakan  untuk mendapat suara dan menarik massa agar dapat dipilih. Sosok yang bagaimana yang layak untuk dipilih? Pemimpin seperti  apakah  yang diinginkan?

Pemimpin diibaratkan  seperti  tumbuhan, ia ditanam,  disirami dan dipupuk agar dapat bertumbuh dan berkembang dengan  baik dan berbuah nantinya. Kepemimpinan adalah sebuah kemampuan di dalam diri seseorang yang membuatnya dapat mempengaruhi orang lain. Lalu, apakah  kepemimpinan itu sebuah kemampuan alami ataukah  kemampuan yang dapat dilatih? Seseorang terlahir sebagai pemimpin atau terlatih sebagai pemimpin? Ada orang yang dikatakan memang terlahir untuk menjadi  pemimpin, namun  sesungguhnya kepemimpinan itu dapat dilatih dan seharusnya memang dilatih. Suku Sentani  dalam sistem  adatnya  dahulu sangatlah teratur.

Semua  anak laki-laki dahulu dipisahkan untuk dipersiapkan di dalam rumah adat yang disebut  Obhee. Untuk berburu, berperang, bertani,  membuat peralatan,  di dalam kelompok-kelompok ini memiliki pemimpinnya  masing-masing, mereka dilatih terus menerus hingga menjadi  ahli dan terampil melakukan  tugas masing-masing. Sentani,  dengan  mayoritas  agama  Kristen, jelas memahami bahwa seorang pemimpin adalah orang “terpilih”, seperti  Daud yang diurapi menjadi  raja, ia telah dilihat dan dipersiapkan Allah. Kebiasaannya, tutur katanya, perbuatannya bahkan  isi hati dan pikirannya diketahui Allah dan itu harus berkenaan di hadapan Allah.

Tidak hanya berbuah, ia harus mempertahankan keberlangsungan hidupnya dengan mempersiapkan bakal buahnya.  Sentani  masa  kini, tidak lagi menyiapkan  pemimpin dalam Obhee. Gereja  dalam struktur organisasinya pun mengalami hal yang sama. Sekolah  Minggu sebagai wadah pemberi dasar kepemimpinan dianggap sepele, terlalu kecil dan tidak mendapat perhatian khusus. Akibatnya, para “bakal pemimpin” untuk kampung dan gereja  tidak terlatih karena  tidak mau dilatih dan akhirnya kalah bersaing, Lingkungan diluar adat dan  gereja   pun sama  mirisnya. Tingkat pendidikan yang cukup rendah  bagi anak-anak  di kampung, anak putus sekolah  yang makin bertambah, pernikahan anak usia remaja, pergaulan  bebas dan masih banyak lagi hal-hal yang menjadi  faktor penyebabnya. Kemajuan  yang pesat  justru membuat langkah kita melambat.

Ia harus bertumbuh agar dapat menumbuhkan yang baru. Menjadi pemimpin, bukan hanya tentang berhasil  dalam kepemimpinannya selama menjabat. “Seorang pemimpin yang berhasil  adalah pemimpin yang melahirkan  pemimpin.”, Hutan Sagu takkan habis apabila ada pohon  sagu yang masih ditanam,  pemimpin orang asli yang memimpin  di tanahnya sendiri pun takkan sulit dicari apabila ada banyak anak asli yang dilatih untuk menjadi  pemimpin.  Memimpinlah  untuk menyiapkan  para pemimpin lainnya sedini mungkin. Semakin awal ditanam,  semakin  awal dituai. semakin  rajin disiram dan dipupuki akan semakin  lebat buahnya.  Semakin baik buahnya,  semakin  baik pula bakal buahnya.


Penulis: Priska M. Felle (Mahasiswa Semester II, Program  Studi S1-Pendidikan  Agama

Krsiten, STAKPN Sentani)

Sumber  Gambar:  https://mediaindonesia.com/weekend/359157/ritual-melantik- pemimpin-adat-di-sentani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *