HENGE’DO DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Masyarakat  Nusa Tenggara Timur  memiliki salam khas yang disebut  “Henge’do” artinya “cium hidung”. Pada umumnya ketika bertemu dengan  seseorang maka kita akan memberi salam dengan  kata-kata,  berjabat tangan,  tersenyum atau membungkukkan badan  maka lain halnya dengan  tradisi yang satu ini karena  orang yang bertemu akan saling menempelkan hidung satu sama  lain. Salam ini biasa dilakukan oleh masyarakat yang ada di pulau Sabu yang kemudian  menyebar hampir ke seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur.

Kajian Ly (2008),  bahwa praktik Henge’do menjadi  praktik budaya yang unik dan khas di kalangan etnis Sabu. bagi masyarakat suku Sabu, ciuman punya multi makna, antara lain simbol kekerabatan dan persaudaraan yang rukun. Henge’do dapat dilakukan dengan  siapa saja tidak memandang jenis kelamin sehingga memungkinkan dilakukan oleh perempuan dan laki-laki, dengan  orang yang lebih tua maupun yang lebih muda. Makna yang terkandung dalam tradisi yang tidak biasa ini juga begitu dalam sehingga  tidak dapat dipandang sebelah mata.  Salam yang dilakukan dengan  cara menempelkan hidung ini menjadikan hidung sebagai media untuk saling menyapa.

Hidung merupakan alat pernapasan yang berarti  kehidupan  sehingga Henge’do dimaknai sebagai unsur menghidupkan rasa kekeluargaan antara  satu dengan  yang lainnya bahkan  yang baru pertama kali bertemu. Sanga (dalam Teras NTT, 2018) menulis, cara ciuman dalam masyarakat Sabu ini, teknisnya  meniru dari semut merah dan menjadikannya sebagai simbol persahabatan. Ketika melakukan Henge’do mata akan terbuka  dan saling menatap satu sama  lain yang bermakna kejujuran  dan penghormatan kepada  orang yang lebih tua.

Peter  A. Rohi, seorang sejarawan seperti  dikutip dari laman historia.idmengungkapkan, “Henge’do adalah bentuk permintaan maaf ketika terjadi konplik”.                                      

Permasalahan dianggap selesai ketika kedua belah  pihak mencium  hidung satu sama lain.  Sudah barang  tentu kebiasaan dengan  segudang  makna ini terus dilestarikan dan dijaga dengan  sebaik-baiknya agar tidak hilang sehingga  dapat dikenal oleh generasi berikutnya.  Namun seiring berjalannya waktu, di tengah  perkembangan dunia modern  dan masyarakat yang keluar ke berbagai tempat di luar NTT sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan  Henge’do karena  perbedaan tradisi dan budaya setempat dimana mereka tinggal maka tradisi ini tidak begitu dikenal oleh generasi yang lahir di luar NTT. Tidak hanya itu, belakangan ini kita juga cukup digemparkan dengan  wabah mematikan yang sudah mendunia  yaitu Covid-19.

Virus ini sudah cukup memakan banyak korban  jiwa karena  penyebarannya yang begitu cepat  sehingga  setiap  Negara menyarankan bahkan  mengharuskan setiap masyarakatnya untuk tidak berkerumun serta  melarang adanya kontak    sik. Hal ini dilakukan semata-mata untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19. Lantas bagaimana dengan  tradisi-tradisi  di berbagai daerah  yang sudah berjalan sekian lama dan sudah dilakukan secara turun temurun  dan memiliki   loso    yang mendalam yang tidak mungkin dihentikan  begitu saja termasuk tradisi Henge’do? Dalam prakteknya  sendiri tradisi Henge’do sudah tentu melibatkan kontak    sik terutama hidung yang sangat  berpotensi menularkan virus dari satu orang kepada yang lain. Sebagai  warga masyarakat NTT yang sudah tentu harus melestarikan budaya setempat tentu merupakan hal yang sulit untuk meninggalkan budaya yang sudah turun-temurun dilakukan namun  di sisi lain, penyebaran virus yang mudah menular  melalui kontak    sik yang bahkan  mengancam keselamatan jiwa tidak boleh dianggap sepele.

Pada 15 Maret 2020, Pemerintah Nusa Tenggara Timur melalui Kepala Biro Humas Marius Ardu Jelamu mengimbau masyarakat untuk sejenak menghindari  tradisi itu hingga kondisi kembali normal.   Pemerintah tidak melarang Henge’do tetapi menyarankan untuk menghindari  “cium hidung” untuk sementara. Saran pemerintah tentu merupakan langkah terbaik pencegahan virus akan tetapi sesuatu yang sudah menjadi  kebiasaan akan terjadi secara spontan begitu juga dengan  Henge’do. Setiap orang NTT pasti melakukan  “cium hidung” ketika bertemu baik dalam sebuah acara maupun pertemuan biasa sehingga  kebiasaan itu kadang membuat seseorang lupa akan amaran seperti  halnya amaran untuk menjaga jarak.

Seseorang cenderung baru menyadari  saat semua sudah terlanjur  terjadi. Beragam pendapat pasti bermunculan dan masing-masing pihak merasa pendapatnya paling benar. Tidak ada yang benar-benar dapat dipersalahkan karena  praktek biasanya mengalahkan teori. Pemerintah dapat terus memberi amaran dan masyarakat dapat terus mendengar namun  yang harus disadari adalah himbauan dapat saja berlalu dari ingatan namun  praktek tradisi itu melekat  dalam kehidupan  masyarakat yang menjalankannya itu sebabnya terkadang dapat terjadi tanpa disengaja namun  tidakmenutup  kemungkinan  ada juga beberapa orang yang dapat mengubah kebiasaannya karena  ketakutan. Takut dengan  akibat yang terjadi. Masalah  dapat saja timbul karena  adanya kesalahpahaman antara  pemerintah dan masyarakat karena  pemerintah beranggapan masyarakat tidak mau mendengar himbauan sedangkan masyarakat tidak dapat serta-merta  menghilangkan kebiasaan yang sudah melekat. Meski tidak sedikit masyarakat yang kadang tidak peduli dengan amaran atau himbauan pemerintah dan ironisnya bahkan  ada yang dengan  sengaja melanggar karena  menganggap enteng  situasi yang terjadi. Tidak hanya sampai disitu hasutan dari kelompok  tertentu juga dapat muncul untuk memperkeruh suasana dan menimbulkan kebimbangan di masyarakat.

Perbedaan pendapat ini tentu dapat diatasi bila masing-masing pihak dapat berkomunikasi dengan  baik sehingga  tidak ada yang termakan hasutan yang tidak benar. Terpenting  adalah setiap  tradisi sedapat mungkin dijalankan dan dijaga dengan sebaik-baiknya agar tetap  lestari namun  jika sudah menyangkut  keselamatan jiwa maka ada baiknya setiap  individu dapat berpikir jernih dan bijaksana. Sekian lama tidak pernah  kita jumpai perihal suatu peristiwa atau keadaan bahkan  wabah penyakit yang begitu berdampak langsung terhadap kehidupan  manusia  dan juga setiap  aspek yang terkait didalamnya sampai  pada wabah Covid-19 yang mengharuskan untuk tidak melakukan  banyak hal yang sebelumnya sudah menjadi

rutinitas dan kebiasaan masyarakat terutama budaya atau tradisi yang sejatinya tidak dengan  sembarangan dapat diubah ataupun  ditiadakan yang melibatkan kontak    sik.

Keadaan  ini sedikit banyak seharusnya dapat merubah cara berpikir kita bahwa pada waktu yang akan datang kita tidak akan tahu permasalahan apa yang dapat terjadi dan dampak apa yang mengikutinya sehingga  dibutuhkan  pengendalian yang bijak untuk tidak terjerumus dalam pemikiran yang hanya menimbulkan kesalahpahaman yang dapat berujung  perpecahan. Kita akan selalu dihadapkan  dengan  kon  ik di masyarakat yang tidak menutup  kemungkinan  dapat menyerang tradisi suatu daerah dan saat ini hal terburuk  yang sedang  menyerang tradisi pada tiap daerah  adalah pandemi  yang sedang  mendunia. Ketika kita berpikir bijaksana kita akan dengan lapang dada menerima keputusan yang diambil tanpa memperkeruh suasana karena yang kita hadapi saat ini tengah  mengancam nyawa. Pandemi tidak akan menghilangkan tradisi. Tergantung  bagaimana cara masyarakat setempat menyikapi tradisi akan tetap  lestari. Hanya untuk saat ini marilah kita sejenak berdiam  diri sampai saatnya  kita dapat keluar dari situasi ini.


Penulis: Barnice Maskati (Mahasiswa Semester IV Prodi Pendidikan Agama Kristen, STAKPN Sentani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *