TAROMBO ORANG BATAK

Sumber Gambar: https://www.kompasiana.com/tulus182/55889f9dc523bdc00a93bad0/orang-batak-antara-cinta-dan- budaya-part-1

Suatu kebiasaan yang lazim bagi setiap  orang Batak adalah melestarikan tarombo atau silsilah. Tarombo bukan menjadi kebutuhan bagi orang Batak, tetapi sebuah identitas. Meskipun Tarombo yang terpelihara kelihatan  biasa saja, namun  ternyata memiliki makna yang dalam. Selain untuk mengenal siapa kakek moyang orang Batak, kita juga dapat mengetahui siapa yang menjadi  bagian dari keluarga baik yang dekat maupun yang jauh.

Umumnya, keluarga yang kita kenal hanya sebatas pada Kakek, Nenek, Ayah, Ibu, Paman,  dan Tante. Setelah mencermati tarombo, ternyata keluarga kita tidak hanya terbatas itu saja.  Dengan memahami tarombo, maka kita bahkan  dapat mengenal banyak saudara. Di setiap  tempat perantauan, ketika ada orang Batak yang bertemu, pastinya mereka akan “martutur” atau berkerabat, biasanya  dilakukan dengan  cara saling bertanya marga. Tujuan agar perbincangan mereka tidak canggung dan menjadi lebih akrab. Apalagi ternyata mereka “mar appara” atau saudara semarga.

Dalam hal ini, Tarombo memiliki fungsi lain sebagai alat untuk memperakrab. Itu untuk pria sesama Batak.  Namun, saat yang bertemu pria Batak dengan  Boru Batak, hal yang sama  juga akan dilakukan yaitu martutur. Di sini lumayan menarik, karena di setiap pertemuan ada peluang untuk bertemu dengan  pariban. Pariban merupakan anak perempuan dari Tulang atau paman  kita. Dan pariban inilah sepupu yang bisa dinikahi. Sementara untuk saudaranya pariban, kita panggilnya lae.

Umumnya, orang Batak memulai Tarombo dari kelompok  ataupun  induk marga mereka. Tetapi ada juga yang membuat lebih lengkap, yang dimulai dari Si Raja Batak. Ini juga tergantung dari seberapa ingat dia akan pendahulunya. Misalnya, Nai Rasaon  ini memiliki 4 orang keturunan yaitu Manurung, Sitorus, Sirat dan Butarbutar. Nai Rasaon  di sini merupakan induk untuk marga-marga tersebut. Dan mereka berempat inilah yang disebut  “marhaha maranggi” atau yang bersaudara. Mereka inilah yang disebut  sebagai Toga atau pokok atau nenek  moyang dari marga-marga yang sudah disebutkan.

Semisal  marga Butarbutar,

Gambaran di atas dapat dijelaskan  bahwa, Toga Butarbutar menikah  dengan  Boru Ragi Sinaga yang kemudian memperanakkan 3 orang anak, yaitu Mananduk, Hutagorat dan Mananti. Dalam hal ini, mereka adalah keluarga, dari mereka sampai ke keturunannya yang akan terus bertambah. Namun, sampai  saat ini belum ada keturunan dari Hutagorat yang terkon   rmasi. Informasi  terakhir yang didapat bahwa Hutagorat pergi merantau ke Aceh, namun  hingga kini tidak ada informasi  yang diketahui tentang keberadaannya sehingga  dianggap punu (meninggal). Dalam penentuan ini, tidak dilakukan oleh sepihak dan tidak dilakukan dengan  waktu singkat. Tetapi melalui proses dan kesepakatan adat yang disaksikan oleh masyarakat dan disetujui.

Zaman sekarang, umumnya di daerah  perantauan, banyak organisasi yang dibentuk oleh orang-orang Batak yang terdiri atas beberapa marga tertentu yang tujuannya mempererat persaudaraan mereka. Semisal,  punguan Sonak Malela se Jayapura. Organisasi  ini terdiri atas marga-marga yang merupakan keturunan dari Sonak Malela, yaitu marga Simangunsong, Marpaung, Napitupulu dan Pardede. Harapannya, sebagai generasi penerus dapat menghargai peninggalan  leluhur dengan  memelihara Tarombo. Dengan demikian, persaudaraan kita sebagai orang Batak akan terpelihara dengan  baik. Pelihara Tarombo, lestarikan  budaya. Horas!


Penulis: Patar Butarbutar (Mahasiswa Prodi S1-Pendidikan Agama Kristen Semester IV, STAKPN Sentani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *