MAHASISWA DAN SEPERANGKAT SOFT SKILLS

Sumber Gambar: https://student-activity.binus.ac.id/bslc/2017/08/apa-itu-soft-skills/

Aristoteles Filsuf dari Yunani (384-322 SM) jauh-jauh  hari telah menekankan bahwa “mendidik pikiran tanpa mendidik hati adalah bukan pendidikan sama  sekali”. Ironi bila manusia  memiliki alam kejiwaan yang memancarkan fajar budi yang dapat ditumbuhkembangkan melalui proses pendidikan berazas keadaban untuk mempertinggi derajat kemanusiaan, namun  berbalik arah pada proses pendidikan yang berorientasi pada penguasaan keterampilan teknis (hard skills) demi memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis sehubungan dengan kepentingan industri hari-hari ini.

Memang kita harus mengakui bahwa hard skills menjadi  modal bagi kita agar survive di era industri 4.0, namun  untuk memelihara hidup-tumbuh  ke arah kemajuan di society 5.0, maka proses pendidikan yang mengasah ketajaman keterampilan non teknis (soft skills) amat penting dilakukan. Penggunaan kecerdasan buatan  (arti  cial intelligence) seperti  kecanggihan teknologi dengan  bekal kemampuan intelegensi (IQ) menjadi penting, namun  kecakapan mengenal diri (self-awareness) atau kemampuan personal (personal skill), kecakapan berpikir rasional  (thinking skill), dan kecakapan sosial (social skill) adalah seperangkat soft skills yang memegang kunci sukses  bagi seseorang dalam menata kemajuan hidup.

Hasil riset Harvard University, Carnegie Foundation  dan Stanford  Research Center Amerika Serikat mengon  rmasi hal dimaksud bahwa “soft skills berada pada angka 85% untuk kesuksesan karier seseorang, sementara hanya 15% disematkan kepada hard skills. Hasil kajian Depdiknas RI tahun 2009 menunjukan “seseorang yang memiliki soft skills 85% menjadi  lebih sukses  dalam pendidikan. Thomas  J. Ne   dan James M. Citrin (1999)  penulis menulis buku Lessons From The Top menegaskan “kunci sukses  seseorang ditentukan  oleh 90% soft skills dan hanya 10% ditentukan oleh hard skills”.

Lebih dari itu, hasil survei National Association of Colleges (NACE) tahun 2002 di Amerika Serikat, terhadap dari 457  pengusaha, dengan  cara mengajukan 20 variabel kualitas yang dianggap mempunyai  hubungan  langsung dengan  kesuksesan karier seseorang dalam pekerjaan, diperoleh  hasil bahwa, Indeks Prestasi (IP), yang selama ini menjadi  tolak ukur utama  dalam mendeskripsikan kualitas hasil didik dari sebuah perguruan  tinggi, ternyata hanya menduduki urutan ke-17 dari 20 variabel yang disurvei. Terhadap  variabel kualitas yang penting dan cenderung bersifat tidak terlihat wujudnya (intangible) yaitu soft skills.

Tidak heran  bila sebanyak 77% pengusaha sepakat dalam proses perekrutan karyawan, soft skills dijadikan pertimbangan yang posisinya sama  penting dengan hard skills (Paolini, 2015). Jadi, dewasa  ini soft skills menjadi  faktor penting yang dipertimbangkan oleh banyak pihak dalam pengembangan karier lulusan di masa depan, selain keterampilan teknis yang harus dimiliki.

Baskara, (2002)  menggolongkan soft skills ke dalam tiga aspek.  Kesatu, kecakapan mengenal diri (self-awareness) atau kemampuan personal (personal skill). Kecakapan ini meliputi: (1) penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, anggota masyarakat dan warga negara; (2) menyadari  dan mensyukuri kelebihan maupun kekurangan yang dimiliki serta  menjadikannya sebagai modal dalam meningkatkan diri sebagai pribadi yang bermanfaat bagi sesama.

Kedua, kecakapan berpikir rasional  (thinking skill). Kecakapan  ini meliputi: (1) kecakapan menggali dan menemukan informasi  (information searching); (2) kecakapan mengolah informasi  dan mengambil keputusan (information processing and decision making skills); dan (3) kecakapan memecahkan masalah secara kreatif (creative problem solving skills).

Ketiga, kecakapan sosial (social skill). Kecakapan  ini meliputi: (1) kecakapan komunikasi dengan  empati  (communication skills); (2) kecakapan bekerjasama (collaboration skills); (3) kecakapan kepemimpinan (leadership); dan kecakapan memberikan pengaruh  (in  uence).

Aktivitas masyarakat akademik tidak boleh  hanya berkutat pada pengembangan hard skills yang mengandalkan IQ, melainkan  soft skills agar memberi wahana kepada mahasiswa untuk belajar olah rasa dan karsa dengan  mengasah daya-daya afektif. Pendidikan tinggi mesti menghilangkan diskriminasi mahasiswa berdasarkan kecerdasan tertentu, yang membuat mahasiswa dengan  kecerdasan lain dianggap sampah masyarakat (Yudi Latif, 2020).

Orientasi  pada pemulihan  ragam kecerdasan mengandung konsekuensi bagi dunia pendidikan tinggi. Perlu ada pemahaman terhadap mahasiswa. Bahwa sesungguhnya tidak ada mahasiswa sampah. Yang ada adalah setiap  mahasiswa memiliki keunikan dan potensi  kecerdasan yang berbeda-beda. Karena itu, perlu ada perubahan sistem  perkuliahan.

Pembelajaran Berbasis Soft Skills

Perguruan  Tinggi sebagai pusat keunggulan bangsa dituntut memainkan peran sentral  untuk mencetak lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif dalam kancah persaingan di era society 5.0. Pada sisi lain, dunia kerja (perusahaan-perusahaan, organisasi nirlaba, instansi  pemerintah atau organisasi lain yang membutuhkan tenaga  kerja) selaku konsumen atau pengguna  jasa tenaga  kerja, selalu mempertanyakan tenaga  kerja kelulusan perguruan  tinggi yang dirasakan  tidak siap pakai.

Dalam perkembangan berbagai jenis pekerjaan yang melibatkan banyak orang dengan kemampuan dan keterampilan yang berbeda-beda, maka perlu ditunjang dengan  soft skills. Karena itu, ketajaman soft skills mahasiswa mesti diasah secara matang  oleh dosen.  Muhmin (2018),  mengusulkan proses pembelajaran berbasis soft skills di perguruan  tinggi dapat dikembangkan melalui kegiatan  perkuliahan  dengan tiga alternatif  cara.

Kesatu, pembelajaran soft skills dapat dilakukan melalui mata kuliah yang berdiri sendiri. Jika cara ini yang dipilih, maka sang dosen  harus memastikan bahwa dalam struktur kurikulumnya ada mata kuliah soft skills. Pada bagian ini, proses pembelajaran perlu diarahkan  pada dua aspek pembelajaran, yaitu tujuan dan materi yang berbasis soft skills. Pada aspek tujuan, dosen  harus memastikan bahwa tujuan perkuliahan  yang harus dicapai oleh para mahasiswa adalah gabungan dari tiga ranah pembelajaran yaitu kognitif, psikomotorik,  dan afektif.

Karena sifatnya gabungan, maka tujuan perkuliahan  bukan hanya menekankan pada hafalan  dan penguasaan jenis soft skills dan bentuk-bentuknya, juga bukan hanya menekankan pada keterampilan mempraktikkan jenis soft skills dan bentuk- bentuknya  dalam kehidupan  nyata mahasiswa, melainkan  juga memfokuskan pada kepribadian para mahasiswa, terutama terkait penumbuhan rasa percaya  diri sehingga  menjadi  manusia  utuh yang memiliki kemantapan emosional dan intelektual, yang mengenal dirinya, yang mengendalikan dirinya dengan  konsisten dan memiliki rasa empati.

Kedua, pembelajaran soft skills lewat metode perkuliahan  dan mengintegrasikannya ke dalam mata kuliah tertentu. Jika cara ini yang dipilih, para dosen  perlu menekankan pada dua aspek, yaitu: aspek pendekatan dan aspek metode perkuliahan.  Pada aspek pendekatan, dosen  perlu menggunakan pendekatan Student Centered Learning (SCL) sebagai pilihan utama  dalam proses perkuliahan. Pendekatan ini berkonsekuensi pada perubahan cara pandang  dalam proses pembelajaran di perguruan  tinggi. Melatih berpikir analitis, kreatif, berpikir kritis, dan manajemen waktu dapat dilakukan pendekatan SCL.

Ketiga, melalui dosen  sebagai role model bagi mahasiswanya. Yang dimaksud dosen role model di sini adalah seorang dosen  yang berfungsi  sebagai contoh,  yang perilakunya ditiru orang lain. Mahasiswa  akan mudah mengikuti kata-kata  dosennya, jika ada contoh  riil darinya. Jika seorang dosen  berkata pentingnya  dialog dalam memecahkan permasalahan tertentu, namun  sang dosen  tidak pernah  sedikitpun melakukan  langkah tersebut maka mahasiswa akan mengabaikan pernyataannya tersebut. Jika cara ini yang dipilih, para dosen  harus siap menjadi  teladan  dalam penerapan soft skills dalam kehidupan  nyata di lingkungan perguruan  tinggi. Perlu diketahui bahwa keteladanan lebih mudah diserap  daripada teori-teori yang kering. Karena itu, jangan pernah  mengajarkan apa yang tidak pernah  dipraktekkan  oleh dosen.

Dosen  sebagai ujung tombak  mesti mengubah mindset sistem  pembelajaran  dari sisi pengetahuan, dulu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sudah jadi, tinggal dipindahkan dari dosen  ke mahasiswa. Namun sekarang pengetahuan adalah hasil konstruksi atau hasil transformasi seseorang yang belajar. Dulu belajar adalah menerima pengetahuan (pasif-reseptif), sekarang belajar adalah mencari  dan mengkonstruksi (membentuk) pengetahuan aktif dan spesik.

Dulu mengajar adalah menjalankan sebuah instruksi yang telah dirancang,  namun kini menjalankan berbagai strategi  yang membantu mahasiswa untuk dapat belajar. Adapun pada aspek metode, para dosen  harus menggunakan berbagai metode dalam proses perkuliahan.  Lewat beragam metode, dosen  dapat menginternalisasikan dan mengimplementasikan soft skills dalam proses perkuliahan.  Dengan cara demikian maka perguruan  tinggi akan mencetak lulusan kompetitif dan siap terjun bekerja menjawab tantangan di era society 5.0.


Penulis: Albertus Y. Fatlolona, M.Pd (Pegawai STAKPN Sentani)

                                          

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *