KEWARGAAN DIGITAL: MEME DAN BUDAYA KRITIK VIRTUAL DI ERA POST TRUTH

Sumber Gambar: http://news.unair.ac.id/2017/01/27/budaya-balik-media-sosial-kekinian-dan-kemajuan-negara/

Era disrupsi membawa transformasi nilai-nilai budaya baru ke dalam sendi-sendi kehidupan  warga negara  modern. Ibarat sebuah guncangan, disrupsi adalah sebuah guncangan yang terjadi antar generasi. Guncangan  tersebut melahirkan  sebuah teori baru yang sering disebut  pasca  kebenaran. Post truth adalah sebuah iklim yang terjadi tatkala emosi  menjadi dominasi mengalahkan objektivitas  dan rasionalitas. Dampak yang ditimbulkan dari hal ini adalah orang-orang sudah tidak lagi menghiraukan kebenaran informasi  yang diperoleh.  Dalam kata lain, post truth mengakibatkan relativitas sebuah kebenaran.

Kebenaran menjadi  tidak penting dan lebih mengutamakan kebenaran menurut peribadinya  sendiri daripada sebuah fakta dari sebuah informasi.  Salah satu bentuk informasi  yang sering dijumpai di media sosial adalah meme. Meme adalah bentuk transmisi  budaya melalui replikasi ide dan gagasan  yang merasuk  ke dalam kognisi manusia.  Meme erat kaitannya dengan  sebuah satire  dalam bentuk gambar  atau ilustrasi sebagai sebuah reaksi terhadap momentum tertentu.

Momen tersebut biasanya  terkait isu-isu yang sedang  ramai menjadi  perbincangan publik di jagat media sosial terutama bentuk kritik warga digital terhadap sebuah kebijakan  ataupun  aktivitas para politisi. Fenomena meme  ini begitu sangat menarik bila dikaji dalam dimensi pendidikan kewarganegaraan terutama dari aspek transfomasi nilai-nilai partisipasi  warga negara  yang konvensional ke arah digital.

Meme erat kaitannya dengan  proses replikasi berbagai informasi  dalam akal budi manusia,  yang keberadaannya terkait dengan  berbagai peristiwa sosial sehingga tercipta lebih banyak salinan meme. Meme dalam internet dapat dimaknai sebagai bentuk replikasi seperti  gambar,  link, video, ataupun  tautan  lainnya. Kendati demikian, dalam istilah populer di media massa, meme lebih dikenal sebagai replikasi gambar yang diberi tautan  teks dan bersifat kontekstual dengan  topik yang dimaksudkan.

Pada praktiknya, meme  ternyata tidak hanya hadir sebagai sebuah parodi akan keadaan sosial masyarakat seperti  canda gurau mahasiswa ataupun  hal lain yang sifatnya lelucon belaka.  Meme berkembang menjadi  sebuah gaya komunikasi baru yang ternyata mampu mengandung muatan  politik atau sarana guna mengkritisi kebijakan  elit negara.

Tak pelak, jika fenomena meme  menjadi  sebuah bentuk demokrasi digital gaya baru yang sekaligus menunjukkan genre  gaya berkomunikasi di era media baru sebagai wujud dari participatory digital culture.

Media baru memberikan ruang baru dalam berdemokrasi. Model demokrasi ini disebut sebagai demokrasi digital yang dide  niskan sebagai pemanfaatan teknologi komunikasi guna memajukan partisipasi  masyarakat dalam berdemokrasi. Melalui internet, masyarakat dimungkinkan untuk melakukan  berbagai eksperimen dan inovasi desain komunikasi ketika dihadapkan  dengan  wakil-wakil politik mereka terkait kebijakan  yang dijalankan.  Inovasi dan eksperimen desain komunikasi itulah yang pada akhirnya menghasilkan apa yang disebut  sebagai meme. Perlu dicatat, bentuk dan variasi meme bersifat kontemporer dan kontekstual, bergantung pada kondisi masyarakat tempat meme  tersebut hadir dan menyebar di internet.

Cepatnya daya sebar meme  melalui jejaring sosial maupun situs-situs  internet, serta kemampuannya mereplikasi  diri, relevan dengan  konsep  Henry Jenkins. Konsep tersebut adalah tentang salah satu karakteristik  produk media baru di mana produk media baru harus selalu menyebar, dan bila tidak maka ia akan musnah. Salah satu produk dari media baru itulah yang kini dikenal dengan  istilah meme  yang menyebar lewat cara imitasi, difusi, dan replikasi secara terus menerus sesuai  konteks  tempat meme  itu dihasilkan.

Meme adalah bentuk dari interaksi para agen dalam struktur internet itu sendiri. Internet adalah sebuah sarang  kultur partisipatoris yang tidak terbatas untuk mengungkapkan ekspresi,  sehingga  sangat  memungkinkan bagi individu untuk berkreasi dan membagikan hasil kreasinya.  Kultur partisipasi  ini menghasilkan apa yang disebut  dengan  meme. Berbagai replikasi meme  berkreasi dan menyebar luas seperti virus dan menjadi  bagian dari demokrasi digital yang dikenal sekarang. Menjadi bagian demokrasi karena  meme  yang tersaji  di internet tak jarang mempunyai  muatan  politik hasil karya agen-agen media baru yang merepresentasikan sebuah sudut pandang  dan wacana tertentu.

Pada akhirnya, meme  akan menghasilkan apa yang disebut  sebagai memory  traces, yaitu struktur yang dapat dilihat sesuai  dengan  konteks  di mana struktur itu terbentuk. Meme yang muncul dalam sebuah fenomena sosial politik tertentu menunjukkan struktur dan narasi yang dibentuk para agen pada saat isu itu berlangsung. Hal ini, dengan  demikian, akan dicatat sebagai artefak  demokrasi digital.

Demokrasi  digital memungkinkan individu untuk berkreasi dengan  mereplikasi  gambar dan teks sehingga  hadirlah meme  bertema politik. Bila diperhatikan,  meme  selalu bersifat parodi dan mengemas realitas  dengan  jenaka.  Melalui cara ini, publik mengartikulasikan, mengevaluasi, sekaligus menghakimi  wacana sosial politik secara demokratis dan satire.

Tidak ada batasan atau ketakutan bagi publik untuk berpendapat sekaligus berkreasi dengan  membuat berbagai meme. Hal paling menarik terkait demokrasi digital dalam fenomena meme  ini adalah tidak adanya klaim ownership  atau kepemilikan dari sebuah gambar  yang diubah sedemikian rupa. Batasan tentang kepemilikan, dengan  demikian, menjadi  semakin  kabur dan gambar-gambar tersebut menjadi  milik komunal netizen. Aktivitasnya menjadi  bagian dari globalisasi  dan demokrasi di internet dan menunjukkan dinamika masyarakat.

Di Indonesia,  gaya berdemokrasi dengan  melontarkan komentar dalam bentuk meme termasuk dalam instrumen demokrasi partisipatoris di internet dan tergolong  sebagai bentuk resistensiResisten, karena  meme  tak jarang bertentangan dengan  kebijakan para penyelenggara negara. Seiring dengan  perkembangannya, unsur sarkastik dan ironi selalu dijadikan cara untuk mengartikulasikan informasi  dan pendapat yang bermuatan sosial maupun politis.

Secara terbuka,  netizen  yang bertindak  sebagai pengguna  media baru mengeluarkan pendapat mereka. Tidak ada lagi batasan dari otoritas layaknya di media massa konvensional. Di dalam sebuah kultur partisipatoris internet, batas  antara  pengguna dan konsumen menjadi  semakin  kabur. Di satu sisi netizen  adalah konsumen pesan- pesan  internet. Di sisi lain, mereka juga dapat memproduksi pesan  tersebut dengan cara berkreasi dengan  meme. Meme sebagai bagian dari media baru membentuk stuktur narasinya  sendiri secara ekspresif. Struktur dalam strukturasi  tidak pernah berdiri secara absolut.  Netizen mempunyai  hak penuh untuk berpendapat sekaligus bernarasi melalui apa yang disebut  meme,  sebagai wujud dari partisipasi  mereka di dalam demokrasi digital.

Mengenai  adanya dua kutub yang bertentangan dalam sebuah perbincangan publik menjelaskan bahwa dalam lingkup iklim internet, kemunculan sebuah counter-meme sangat  mungkin terjadi). Semua  itu adalah hasil dari lingkungan media internet di mana setiap  penggunanya diberikan ruang untuk terlibat  dalam aktivitas interperetasi kreatif secara partisipatoris dan inilah yang membedakannya dengan  media-media konvensional berdasarkan sifatnya, meme di internet dapat muncul dalam dua bentuk, yaitu apathetic dan resistance.  Maksudnya, meme  dalam internet bisa berarti  acuh atau tidak mempersoalkan sebuah kebijakan,  tetapi bisa pula resisten terhadapnya Acuh berarti  meme  tersebut mewacanakan sikap apatis terhadap sebuah isu yang digulirkan pemerintah atau pemangku  kebijakan.


Penulis: Fajar Setyaning Dwi Putra, M.Pd (Wakil Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Insan Cendekia Mandiri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *