
STAKPN Sentani Gelar Wisuda ke-XXVI: Dirjen Bimas Kristen Tekankan Integritas dan Sinergi Akademik
31/10/2025
Kegiatan Pengabdian Masyarakat Pascasarjana Program Magister PAK dan Magister Teologi STAKPN Sentani
01/11/2025SENTANI — Dalam upaya merealisasikan nilai-nilai Asta Protas Kemenag Berdampak serta meneguhkan relevansi ajaran Kristen dalam konteks krisis ekologis, tim dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Kristen (PAK) STAKPN Sentani melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Penguatan Ekoteologi: Pemahaman dan Praktik Ajaran Kristen dalam Merawat Alam Sentani, Papua.”
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 1 November 2025, di Jemaat POS PI GKN Shalom Sentani, dihadiri oleh warga jemaat setempat dan menjadi ruang dialog antara iman, teologi, dan tanggung jawab ekologis.
Inisiatif ini lahir dari keprihatinan akademik dan moral terhadap tingginya angka deforestasi di kawasan Kaki Gunung Cycloop, Sentani, yang pernah memicu bencana banjir bandang besar pada tahun 2019. Tragedi tersebut menjadi pengingat penting tentang keterkaitan antara perilaku manusia dan kerusakan ekologis. Lokasi pelaksanaan PkM sendiri termasuk wilayah yang terdampak bencana tersebut, menjadikannya simbol nyata dari proses pemulihan ekologis dan spiritual.
Ketua Jurusan PAK, Jolanti Wisje Pentury, M.Pd, menyampaikan apresiasi mendalam kepada Gembala dan Jemaat POS PI GKN Shalom Sentani atas keterbukaan mereka menerima kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa kolaborasi kampus dan gereja merupakan wujud nyata teologi yang tidak berhenti pada pemahaman, tetapi menjelma menjadi aksi yang memulihkan kehidupan bersama.
Gembala Jemaat, Rumeni Br Silitonga M.Pd turut menyampaikan terima kasih kepada tim PkM STAKPN Sentani, seraya berharap kegiatan ini menjadi momentum bagi jemaat untuk menghidupi ajaran Kristus melalui kepedulian terhadap alam ciptaan.
Rangkaian kegiatan mencakup aksi penanaman pohon matoa, rambutan, dan durian di area gereja sebagai simbol komitmen ekologis tim dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa bersama jemaat. Selain itu, dilaksanakan pula sesi refleksi teologis oleh Dr. Yohanes K. Labobar, M.Th, yang membawakan materi berjudul “Ketika Langit dan Tanah Berdamai: Teologi Pelangi dari Tanah Papua (Refleksi atas Kejadian 6:9–22; 9:12–17).”
Dalam paparannya, Dr. Labobar menafsirkan kisah air bah dan pelangi dalam Kitab Kejadian melalui lensa teologi ekologi dan kosmologi Papua. Mengacu pada pendekatan kontekstual Stephen Bevans serta teologi ciptaan Jürgen Moltmann, ia menegaskan bahwa iman Kristen perlu berdialog dengan spiritualitas ekologis masyarakat Papua yang memandang alam sebagai ruang sakral.
Simbol “mama tanah” dan “pelangi” dipahami sebagai jembatan spiritual yang mempertemukan langit dan bumi—tanda dari Allah yang memelihara kehidupan. Dari refleksi ini menguatkan paradigma iman ekologis yang meneguhkan relasi kasih antara Allah, manusia, dan seluruh ciptaan.
Kegiatan ini ditutup dengan komitmen bersama jemaat untuk menghidupi ajaran ekoteologi dalam tindakan nyata sehari-hari. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa iman yang hidup adalah iman yang berakar pada kasih dan diwujudkan dalam kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama.
#Penulis: Yakob Godlif.M, #Design: Robyn.B.P, #Dokumentasi: PAK, #Editorial: Gusti. N.P.










